KOTAWARINGIN BARAT — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menjadi perhatian serius. Upaya pemadaman menghadapi tantangan berat ketika relawan di lapangan harus berjibaku melawan api dengan keterbatasan tenaga, peralatan, air, dan biaya operasional.
Relawan yang berada di garis depan memiliki peran penting dalam membantu memadamkan api serta mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain. Namun, perjuangan tersebut tidak mungkin terus dibebankan kepada relawan apabila dukungan logistik dan pendanaan tidak mencukupi.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan semata-mata tanggung jawab relawan. Pemerintah daerah, instansi terkait, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat koordinasi serta memastikan bantuan benar-benar menjangkau petugas di lapangan.
Ketika relawan menghadapi keterbatasan dana, langkah nyata sangat dibutuhkan, mulai dari penyediaan bahan bakar, peralatan pemadaman, pasokan air, perlengkapan keselamatan, hingga kebutuhan konsumsi selama bertugas.
Pemerintah dan pihak terkait juga perlu memastikan langkah pencegahan serta penanganan dilakukan secara terpadu, terutama di kawasan lahan gambut yang rawan terbakar dan berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Relawan tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Keselamatan mereka harus menjadi perhatian, sementara dukungan anggaran, sarana, dan tenaga pemadam perlu disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.
Masyarakat berharap penanganan karhutla di Kotawaringin Barat mendapat perhatian serius agar kebakaran dapat dikendalikan dan dampak kabut asap terhadap kesehatan serta aktivitas warga bisa diminimalkan.
” kami tak mampu hiba am Lolah isi tenaga padamkan api tu manyola bosar am peralatan isi mampu angin kencang gola diri terbakar, “Agus berteriak.
(Embong).

Leave a Reply