PALANGKA-NEWS.CO.ID, PALANGKA RAYA – Satuan Tugas Wilayah Kalimantan Tengah Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri (Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri) mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat memperkuat sinergi untuk mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).

Ajakan tersebut menjadi bagian dari Gerakan Resiliensi Sosial yang terus didorong Densus 88 di Kalimantan Tengah. Gerakan ini menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengenali potensi ancaman, menyaring informasi, serta menjaga lingkungan sosial yang aman dan toleran.

Densus 88 menilai pencegahan IRET membutuhkan peran bersama. Pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, lembaga pendidikan, serta masyarakat memiliki posisi penting dalam membangun ketahanan sosial.

Upaya tersebut tidak hanya menyasar ancaman intoleransi dan radikalisme secara langsung. Densus 88 juga mendorong masyarakat memahami berbagai bentuk penyebaran paham yang dapat mengarah pada ekstremisme berbasis kekerasan atau non-violent extremism (NVE).

Densus 88 Perkuat Edukasi dan Dialog Masyarakat

Satgaswil Kalteng Densus 88 menjalankan Gerakan Resiliensi Sosial melalui pendekatan langsung kepada masyarakat. Petugas melakukan sosialisasi, edukasi publik, imbauan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), serta dialog interaktif dengan berbagai elemen masyarakat.

Pendekatan tersebut membuka ruang komunikasi antara aparat dan masyarakat. Melalui dialog, masyarakat dapat memperoleh pemahaman mengenai potensi ancaman IRET sekaligus mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebarannya.

Tokoh masyarakat dan tokoh agama juga memiliki peran strategis. Mereka dapat membantu menyampaikan pesan perdamaian serta memperkuat nilai kebersamaan di lingkungan masing-masing.

Densus 88 juga mendorong keterlibatan generasi muda. Kelompok pemuda menjadi salah satu elemen penting dalam membangun lingkungan sosial yang terbuka, kritis, dan mampu menghadapi berbagai informasi yang berkembang.

Selain pendekatan langsung, Densus 88 memanfaatkan ruang digital sebagai bagian dari strategi pencegahan. Edukasi literasi digital dan penyebaran konten kontra-narasi menjadi instrumen untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Perkuat Ketahanan Masyarakat di Ruang Digital

Perkembangan teknologi dan media sosial membuat penyebaran informasi berlangsung cepat. Kondisi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi positif, tetapi juga menghadirkan risiko penyebaran narasi intoleransi dan radikalisme.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Sikap kritis terhadap konten digital menjadi salah satu bagian penting dalam membangun resiliensi sosial.

Densus 88 mendorong masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mengandung kebencian, provokasi, diskriminasi, maupun ajakan kekerasan. Masyarakat juga perlu mengedepankan dialog ketika menghadapi perbedaan pandangan.

Gerakan Resiliensi Sosial pada akhirnya tidak hanya menjadi tugas aparat keamanan. Gerakan ini membutuhkan kepedulian dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat Kalimantan Tengah diharapkan semakin mampu mengenali potensi ancaman IRET, menyaring informasi secara bijak, serta membangun lingkungan yang aman, damai, dan toleran.

Sinergi antarelemen juga menjadi modal penting untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Tengah. Dengan penguatan edukasi, komunikasi, dan literasi digital, upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini sebelum paham yang mengarah pada kekerasan berkembang lebih jauh.

Gerakan Resiliensi Sosial pun diarahkan sebagai upaya bersama untuk memperkuat ketahanan masyarakat Kalteng. Tujuannya menjaga persatuan sekaligus mencegah berbagai paham yang dapat memicu kekerasan, intoleransi, dan perpecahan.

Pewarta: Harry

Editor: Redaksi Palangka-News

PT. Palangka-Berita. Jaya Mandiri