PALANGKA-NEWS.CO.ID, PALANGKA RAYA – Pelaksanaan Ritual Tiwah tahun ini diikuti oleh sebanyak 20 arwah umat Hindu Kaharingan. Ritual ini merupakan prosesi kematian tingkat akhir yang suci dan menjadi bagian krusial dalam keyakinan umat Hindu Kaharingan, bukan sekadar sebuah tradisi atau adat istiadat yang bersifat umum.
Hal tersebut ditegaskan oleh Obing, seorang Basir atau pemimpin pelaksanaan Ritual Tiwah, Sabtu (30/5/2026). Ia menyampaikan bahwa Tiwah adalah tahapan akhir untuk mengantarkan arwah menuju tempat yang diyakini dalam ajaran Hindu Kaharingan.
“Ini ritual keagamaan, ritual suci tingkat akhir, kematian tingkat akhir bagi umat Hindu Kaharingan. Semua arwah yang ditiwahkan itu umat Hindu Kaharingan, jadi bukan adat yang sifatnya umum,” ujar Obing.
Meskipun bersifat khusus bagi umat Hindu Kaharingan, Obing menjelaskan terdapat pengecualian dalam kondisi tertentu.
Seseorang yang semasa hidupnya berasal dari keluarga penganut Hindu Kaharingan, namun keturunannya berpindah keyakinan setelah ia meninggal dunia, tetap dapat diikutkan dalam Ritual Tiwah. Hal ini dapat terjadi jika ada permintaan langsung dari arwah melalui mimpi atau peristiwa spiritual kepada keluarga yang masih hidup.
“Nah itu bisa terjadi bukan karena keinginan keluarga yang masih hidup, tetapi karena keinginan arwah yang meninggal untuk ditiwahkan,” jelasnya.
Dalam rangkaian Ritual Tiwah, terdapat kegiatan tabuh yang biasanya dilaksanakan sebanyak dua kali, menyesuaikan keputusan panitia penyelenggara.
Terkait kehadiran tamu, Obing menerangkan ada dua skema:
1.Tiwah Massal / Dukungan Pemerintah: Pihak-pihak yang terlibat dan mendukung anggaran wajib diundang dalam prosesi.
2 .Tiwah Pribadi / Keluarga: Hak mengundang tamu sepenuhnya menjadi kewenangan mandiri pihak keluarga dan panitia penyelenggara.
Obing berharap seluruh rangkaian acara yang dimulai dari tahapan Baramu (pencarian perlengkapan ritual) sejak 23 April 2026 ini dapat berjalan lancar hingga selesai pada 14 Juni 2026 mendatang. Ia juga berharap adanya dukungan berkelanjutan dari pemerintah, meski menegaskan bahwa ritual ini akan tetap lestari berkat semangat swadaya masyarakat yang diwariskan turun-temurun.
Pada pelaksanaan Tiwah kali ini, panitia menyiapkan hewan kurban berupa:
20 ekor kerbau dan 7 ekor babi
Meski demikian, jumlah tersebut tidak bersifat mutlak. Keluarga peserta dapat saling bergabung dalam satu kelompok untuk menggunakan hewan kurban secara bersama-sama. Bahkan, penggunaan hewan kurban dapat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi peserta, termasuk menggunakan babi jika tidak memungkinkan menyediakan kerbau atau sapi.
Ritual Tiwah tahun ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah. Selain warga desa setempat, terdapat pula peserta yang datang dari Desa Tahawa, Desa Parahyangan, Desa Buhut Lawa, hingga Desa Petuk Liti.
“Dari mana saja bisa ikut Tiwah. Siapa saja yang ingin mengikuti dan memenuhi ketentuan, baik dari daerah hulu maupun wilayah lainnya, bisa bergabung dalam pelaksanaan ritual ini,” pungkas Obing.
(Titin) PT Palangka news jaya Mandiri.

Leave a Reply