PALANGKA-NEWS.CO.ID, PALANGKA RAYA – Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah pedesaan hingga pelosok Kalimantan masih menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya terselesaikan.8/5/2026.

Kelangkaan stok, jauhnya jarak tempuh menuju SPBU, hingga tingginya harga eceran membuat masyarakat desa sangat bergantung pada para pelangsir BBM.

Di tengah kondisi tersebut, sebagian masyarakat menilai keberadaan pelangsir justru menjadi penyelamat kebutuhan warga, terutama bagi petani, nelayan, pengusaha kecil, hingga pengguna kendaraan di daerah terpencil.

“Kalau tidak ada pelangsir, masyarakat desa bisa kesulitan total mendapatkan BBM. Kadang jarak ke SPBU resmi puluhan kilometer,” ujar salah satu warga pedesaan.

Menurut warga, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara menyeluruh dan tidak hanya fokus pada penindakan pelangsiran semata. Sebab akar masalah utamanya adalah distribusi BBM yang belum merata hingga tingkat desa.

Sejumlah tokoh masyarakat pun mendorong agar pemerintah pusat maupun daerah mulai memikirkan solusi jangka panjang dengan membangun Pos SPBU kecil atau sub penyalur resmi di setiap pedesaan.

“Kalau setiap desa ada pos BBM resmi skala kecil, masyarakat tidak lagi bergantung kepada pelangsir ilegal. Harga juga bisa lebih stabil dan pengawasan lebih mudah,” ungkap tokoh masyarakat setempat.

Selain membantu masyarakat, keberadaan SPBU mini desa dinilai mampu membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan aktivitas ekonomi pedesaan. Pemerintah juga dianggap lebih mudah mengontrol distribusi BBM subsidi agar tepat sasaran.

Masyarakat berharap kebijakan distribusi BBM ke depan tidak hanya menitikberatkan pada penertiban, tetapi juga menghadirkan solusi nyata agar kebutuhan energi masyarakat pedalaman tetap terpenuhi dengan aman dan terjangkau.

Tim Red : PT Palangka News Jaya Mandiri