Editorial – Penulis : Hadriansyah/ Manghadiboy
PALANGKA-NEWS.CO.ID, PALANGKA RAYA – Arah politik Golkar di Kalimantan Tengah kembali menjadi perhatian setelah nama Edy Pratowo menguat sebagai figur penentu masa depan partai. Di tengah dinamika politik daerah yang terus bergerak, muncul penilaian beragam mengenai langkah politik Edy: apakah ia benar-benar mengarahkan Golkar pada upaya membangun Kalteng, atau justru terjebak dalam ritme politik yang maju–mundur tanpa kepastian.
Dalam beberapa kesempatan, Edy Pratowo terlihat berusaha menampilkan kepemimpinan yang inklusif. Ia berbicara tentang pentingnya soliditas, penyegaran struktural, dan persiapan kader menghadapi tantangan politik 2025–2029.
Namun di sisi lain, berbagai faksi internal Golkar membaca gerakannya sebagai terlalu hati-hati, bahkan cenderung menahan langkah agar tidak menimbulkan gesekan dengan kelompok-kelompok kuat di tubuh partai.
Keraguan publik kembali mencuat ketika beberapa keputusan strategis Golkar Kalteng terlihat tidak konsisten. Ada langkah yang menunjukkan keberanian, tetapi tidak sedikit pula yang dianggap sebagai kompromi politik. Situasi ini memperkuat kesan bahwa arah Golkar masih bergantung pada peta kepentingan yang berubah-ubah, bukan pada visi jangka panjang yang kokoh.
Sementara itu, elite Golkar di daerah mempertanyakan apakah Edy Pratowo mampu berdiri sebagai figur pemersatu. Sebagian kader menilai ia memiliki rekam jejak birokrasi yang kuat dan potensi memimpin partai ke arah yang lebih modern. Namun sebagian lainnya menilai ia masih berada dalam bayang-bayang kekuatan tertentu yang membuat ruang geraknya terbatas.
Di lapangan, masyarakat dan pengamat politik menunggu sikap tegas. Kalteng membutuhkan partai politik yang mampu mengawal pembangunan, bukan hanya mengelola kepentingan internal. Golkar seharusnya menampilkan diri sebagai kekuatan yang membawa keseimbangan antara pembangunan daerah dan demokrasi yang sehat.
Dalam konteks itu, kepemimpinan Edy Pratowo menjadi sorotan utama: apakah ia mampu memutus mata rantai tarik-menarik kepentingan atau justru terseret di dalamnya.
Melalui berbagai kegiatan konsolidasi, Edy Pratowo mencoba mendorong peran kader muda, memperkuat struktur kabupaten/kota, dan menata ulang mesin politik partai. Namun upaya tersebut masih dipandang belum cukup menjawab pertanyaan besar: ke mana arah Golkar Kalteng dibawanya?
Narasi politik yang berkembang menunjukkan bahwa Golkar berada di titik krusial. Jika ingin tetap menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan daerah, partai harus memiliki kompas politik yang tegas. Arah itu hanya bisa dijawab melalui langkah politik Edy Pratowo.
Apakah ia akan memilih jalan membangun Kalteng melalui penguatan institusi partai? Atau sekadar menjaga posisi dalam pusaran kekuasaan?
Sejarah politik selalu mengingat pemimpin yang mengambil sikap jelas. Golkar Kalteng kini berdiri di persimpangan, dan publik menunggu apakah Edy Pratowo siap mengambil kendali atau membiarkan ritme maju–mundur itu terus berlanjut.
Pengamat Politik.
DPD AWPI Kalteng’ Hadriansyah menilai bahwa arah Golkar di bawah Edy Pratowo tergantung sikap pemimpin partai itu sendiri harus sikap tegas.
“Edy Pratowo memiliki modal kepemimpinan yang kuat, tetapi langkah politiknya terlihat terlalu berhitung. Golkar tidak bisa terus berada dalam zona abu-abu. Jika ingin memimpin peta politik Kalteng, harus ada keputusan strategis yang jelas, bukan sekadar menjaga keseimbangan faksi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat kini menuntut partai politik mengambil peran lebih jelas dalam pembangunan daerah.
“Publik menunggu apakah Golkar benar-benar ingin menjadi lokomotif pembangunan atau hanya sekadar pelengkap dalam lingkar kekuasaan. Arah itu sangat ditentukan oleh keberanian figur sentralnya,” tegas Hadriansyah.
Selanjutnya, analis politik independen melihat dinamika internal Golkar sebagai faktor kunci.
“Faksi di tubuh Golkar cukup kuat, dan Edy Pratowo berada di tengah persimpangan. Jika ia terlalu kompromistis, Golkar tidak bergerak. Tetapi jika ia terlalu memaksa, gelombang resistensi bisa muncul. Di sinilah ujian kepemimpinan sesungguhnya,” jelasnya.
Nurhayati menutup kajiannya dengan penekanan pada momentum politik 2025–2029.
“Ini periode penentu. Edy harus memilih: menjadi penggerak pembangunan Kalteng atau sekadar penjaga stabilitas internal partai. Dua-duanya tidak bisa dijalankan bersamaan tanpa risiko politik yang besar,” katanya.
Pewarta. ,: Erwansyah
PT Palangka News Jaya Mandiri.
