Palangka-News.co id, Palangka Raya.-. Sepanjang lima bulan terakhir, tepatnya sejak status Siaga Darurat ditetapkan pada 1 Juni hingga 5 November 2026, Kota Palangka Raya menghadapi tantangan berat terkait bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 6/11/2026.
Berdasarkan data rekapitulasi terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, tercatat sebanyak 1.018 kejadian kebakaran telah melanda berbagai wilayah di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut. Total luas lahan yang hangus akibat peristiwa ini mencapai angka yang cukup fantastis, yakni 1.470,16 hektar.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Palangka Raya, Heri Pauzi, dalam keterangannya pada Sabtu, 7 November 2026, menjelaskan bahwa data tersebut mencerminkan tingginya tekanan yang harus dihadapi oleh tim gabungan di lapangan maupun masyarakat luas. Berdasarkan pemetaan wilayah, Kecamatan Jekan Raya menjadi lokasi yang paling banyak mengalami musibah kebakaran dengan total 638 kejadian. Selanjutnya, Kecamatan Sebangau mencatatkan 196 kejadian, disusul oleh Kecamatan Bukit Batu dengan 91 kejadian, Kecamatan Pahandut sebanyak 88 kejadian, dan Kecamatan Rakumpit sebanyak 6 kejadian.
Heri mengungkapkan bahwa dominasi angka kejadian di Kecamatan Jekan Raya dan Sebangau sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis lahan yang didominasi oleh tanah gambut. Saat musim kemarau panjang, lahan gambut menjadi sangat kering dan sangat sensitif terhadap sumber api sekecil apa pun. Selain faktor alam, aktivitas manusia yang kurang waspada juga memegang peranan besar dalam memicu munculnya titik api. “Lahan gambut yang kering sangat rentan terbakar, sehingga sekali ada percikan api, api dapat dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas,” ujar Heri menjelaskan karakteristik medan yang sulit dikendalikan.
Meski angka kejadian tergolong tinggi, BPBD menegaskan bahwa keberhasilan tim gabungan dalam merespons setiap laporan secara cepat telah berperan vital dalam meminimalisir dampak yang lebih luas. Tanpa koordinasi yang solid dan kecepatan aksi pemadaman di lapangan, diyakini luas lahan yang terbakar akan jauh melampaui angka 1.470,16 hektar tersebut. Pemerintah Kota Palangka Raya pun tidak tinggal diam; selain melakukan aksi fisik di lapangan, pemko juga telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 462 juta yang dialokasikan khusus untuk pengobatan gratis bagi warga yang terdampak langsung oleh paparan asap karhutla.
Menghadapi kondisi cuaca yang belum menunjukkan tanda-tanda curah hujan merata, BPBD Palangka Raya terus meningkatkan intensitas patroli dan pemantauan secara ketat di titik-titik yang dianggap rawan. Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, mengingat risiko penyebaran api yang sangat cepat di tengah kondisi cuaca ekstrem ini. “Satu percikan api yang tidak terkontrol bisa berakibat luas dan merugikan banyak pihak,” tegas Heri. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan warga dalam deteksi dini bencana.
Masyarakat diimbau untuk berperan aktif dengan segera memberikan laporan melalui layanan Call Center 112 yang beroperasi selama 24 jam penuh apabila menemukan adanya indikasi kepulan asap atau nyala api di lingkungan sekitar mereka agar penanganan dapat dilakukan sesegera mungkin sebelum kobaran api membesar dan meluas.
Desi A : Palangka News Jaya Mandiri.

Leave a Reply