KOTAWARINGIN BARAT, KALTENG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menjadi perhatian serius. Sejumlah relawan yang selama ini berjuang memadamkan api akhirnya menarik personel sementara dari lapangan karena upaya pemadaman dinilai belum menunjukkan hasil signifikan.

Relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kobar meminta pemerintah segera memperkuat penanganan kebakaran, termasuk dukungan water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Desakan tersebut disampaikan setelah kemampuan pemadaman di lapangan dinilai telah mencapai batas. 15/10/2026.

Relawan Membutuhkan Dukungan Nyata

Situasi ini menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla di kawasan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan tenaga relawan. Luasnya wilayah, sulitnya akses menuju titik api, serta karakteristik lahan gambut membuat pemadaman membutuhkan strategi, peralatan, personel, dan dukungan logistik yang memadai.

Perwakilan relawan, Moncos, menyampaikan bahwa pihaknya memilih menarik diri sementara karena upaya yang dilakukan belum menghasilkan perubahan signifikan. Relawan juga meminta pemerintah segera menghadirkan bantuan pemadaman dari udara.

Penarikan personel tersebut bukan berarti ancaman kebakaran telah berakhir. Sebaliknya, kondisi ini menjadi peringatan bahwa penanganan harus diperkuat agar api tidak terus mengancam kawasan hutan dan habitat satwa liar.

Pemerintah Didesak Mempercepat Penanganan

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan instansi terkait perlu memastikan setiap langkah penanganan berjalan terkoordinasi. Dukungan udara harus dipertimbangkan sesuai kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan, sementara pemadaman darat tetap diperkuat dengan personel serta sarana yang sesuai kebutuhan.

Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa operasi water bombing sebelumnya telah dilaksanakan pada 20–22 September 2026. Namun, kebakaran belum sepenuhnya terkendali. Permohonan dukungan udara kembali diajukan, tetapi kabut asap tebal menjadi kendala karena membatasi jarak pandang helikopter.

Kondisi tersebut menuntut langkah alternatif yang cepat dan terukur. Ketika pemadaman udara terkendala, penguatan pasukan darat, penambahan peralatan, penyediaan sumber air, serta dukungan logistik harus menjadi perhatian bersama.

Habitat Orangutan Terancam

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting bukan sekadar persoalan lahan terbakar. Kawasan ini merupakan habitat penting orangutan dan berbagai satwa liar yang bergantung pada kelestarian hutan.

Jika kebakaran terus meluas, dampaknya berpotensi merusak habitat, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan memperburuk kualitas udara bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara serius, berkelanjutan, dan transparan. Masyarakat juga berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai perkembangan pemadaman, kendala di lapangan, serta langkah konkret yang telah dan akan dilakukan pemerintah.

Jangan Biarkan Relawan Berjuang Sendirian

Mundurnya relawan sementara dari garis pemadaman seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pihak. Relawan yang telah berjuang di lapangan membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar imbauan dan koordinasi.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan instansi teknis perlu memastikan sumber daya yang diperlukan tersedia sesuai kondisi lapangan, dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas.

Tanjung Puting membutuhkan penanganan serius. Api harus dikendalikan, habitat satwa harus dilindungi, dan masyarakat harus mendapat kepastian bahwa upaya penanggulangan karhutla dilakukan secara maksimal.

Kini, yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan tindakan nyata, koordinasi yang kuat, serta dukungan memadai agar kebakaran tidak terus mengancam kawasan konservasi kebanggaan Kalimantan Tengah.

” Kami balik Dolo wi tak mampu bertahan laju Bonar api hantam gambut tu, hiba udah 3 hari belum balik karumah, kena lagi we kami balik pasawat bom air tamampu apa lagi alat sederhana kami ni, ” Nanang .

Red/ Embong. PT Palangka News Jaya Mandiri.