Penulis : Hadriansyah/Manghadiboy
PALANGKA-NEWS.CO.ID, PALANGKA RAYA — Dinamika internal Partai Golkar kembali memunculkan sorotan publik setelah Musda XI diwarnai absennya kandidat tandingan. Kondisi ini membuat sosok Nuju Almasi melenggang tanpa kompetitor dalam perebutan kursi ketua, sekaligus menegaskan sinyal berkurangnya kader potensial yang berani tampil dalam kontestasi organisasi. 27/11.
Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar seharusnya menjadi momentum konsolidasi sekaligus adu gagasan antar-kader untuk memperkuat posisi partai di Kalimantan Tengah. Namun kenyataannya, minimnya figur yang maju menantang Nuju Aklamasi justru menimbulkan tanda tanya.
Absennya lawan dalam proses demokrasi internal menunjukkan bahwa Golkar sedang berada pada fase kehilangan kader kompetitif yang memiliki keberanian politik untuk tampil ke permukaan. Padahal, partai sebesar Golkar identik dengan regenerasi yang kuat dan kompetisi sehat dalam tubuh organisasi.
Tidak adanya lawan membuat Musda XI tampak lebih sebagai formalitas ketimbang arena pertarungan visi kepemimpinan. Fenomena ini memunculkan kritik bahwa partai tengah mengalami stagnasi di tingkat daerah, di mana kader muda belum diberi ruang, sementara kader senior memilih mengambil sikap diam.
Sebagian pengamat menyebut bahwa dominasi figur tertentu dapat menghambat proses kaderisasi partai dalam jangka panjang. Sementara itu, loyalitas kader terlihat lebih cenderung diarahkan pada stabilitas internal daripada memperkuat kompetisi gagasan.
Kutipan Pengamat Politik
Pengamat politik regional, Hadriansyah menilai bahwa absennya kompetitor dalam Musda XI Partai Golkar merupakan sinyal serius melemahnya dinamika kaderisasi partai.
“Ketiadaan lawan bagi Nuju Almasi dalam Musda XI menunjukkan bahwa proses kaderisasi di tubuh Golkar mulai stagnan. Partai sebesar Golkar seharusnya memiliki banyak figur potensial yang siap tampil, bukan hanya satu nama yang mendominasi,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa demokrasi internal partai perlahan kehilangan daya kritis karena minimnya keberanian kader untuk bersaing secara terbuka.
“Kompetisi gagasan merupakan jantung dari regenerasi partai. Jika kader-kader muda tidak diberi ruang atau enggan tampil, partai akan kehilangan energi politiknya. Musda yang berlangsung tanpa kontestasi hanya memperlihatkan formalitas, bukan dinamika demokrasi,” tambahnya.
Pengamat, menegaskan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, Golkar dapat menghadapi tantangan besar dalam menjaga relevansi politiknya di masa depan.
“Tanpa kompetisi sehat, partai berisiko kehilangan daya tarik dan kepercayaan publik. Regenerasi tidak boleh macet, karena masa depan partai ditentukan oleh kualitas kadernya hari ini,” tutupnya.
Pewarta. ; Tim red Pknews
PT Palangka News Jaya Mandiri.

Leave a Reply