Palangka Raya. – Bulan September 2026, Kalteng mengalami inflasi mencapai 0,40 persen dan 3,21 persen. Inflasi merupakan kenaikan harga barang konsumen
Dan di bulan yang sama inflasi tahunan (year on year) mencapai 5,02 persen, dengan indek harga konsumen 115,51 persen.
Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng M. Taufiqurrahman saat memaparkan hal itu terkait perkembangan Indeks Harga Konsumen periode September 2026, di Palangka Raya, Kamis (1/10/2026.
Pihak Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah (Kalteng) juga mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) di provinsi tersebut mencapai 5,02 persen pada September 2026.
Angka tersebut berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang tercatat sebesar 113,51.
M. Taufiqurrahman, mengatakan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas, yakni sebesar 6,00 persen dengan IHK 114,65.
“Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 6,00 persen dengan IHK sebesar 114,65. Sedangkan inflasi y-on-y terendah terjadi di Sampit sebesar 4,21 persen dengan IHK sebesar 112,55,” kata M. Taufiqurrahman, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan data BPS Kalteng, inflasi tahunan tersebut terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.
Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,18 persen.
Selanjutnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 7,50 persen, transportasi 6,27 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 2,54 persen, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,66 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 2,77 persen, pakaian dan alas kaki 2,16 persen, pendidikan 2,13 persen, kesehatan 1,99 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 1,46 persen.
Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mencatat inflasi paling rendah sebesar 0,45 persen.
Dari kelompok makanan, minuman dan tembakau, kenaikan harga juga menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi Kalteng secara tahunan. Kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 2,91 persen dari inflasi umum 5,02 persen.
Adapun komoditas yang memberikan andil inflasi y-on-y terbesar antara lain beras sebesar 0,87 persen, emas perhiasan 0,42 persen, ikan nila 0,35 persen, bensin 0,33 persen, dan cabai rawit 0,20 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas tercatat memberikan andil terhadap deflasi, yakni daging ayam ras sebesar 0,15 persen, bawang merah 0,08 persen, telur ayam ras 0,02 persen, angkutan udara 0,02 persen, dan sekolah menengah pertama sebesar 0,02 persen.
Jika dilihat secara bulanan, BPS Kalteng mencatat inflasi month-to-month (m-to-m) pada September 2026 sebesar 0,40 persen dibandingkan Agustus 2026.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi 0,32 persen.
Komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan terbesar yakni ikan nila sebesar 0,08 persen, cabai rawit 0,07 persen, ketimun 0,04 persen, kacang panjang 0,04 persen, dan solar 0,04 persen.
Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi secara bulanan antara lain daging ayam ras sebesar 0,12 persen, angkutan udara 0,05 persen, bawang merah 0,03 persen, ikan gabus 0,02 persen, serta bawang putih 0,01 persen.
Secara tahun kalender atau year-to-date (y-to-d), inflasi Kalteng hingga September 2026 mencapai 3,21 persen. Kelompok makanan, minuman dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi sebesar 4,09 persen dan memberikan andil sebesar 1,61 persen.
Selain kelompok tersebut, kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 5,46 persen dengan andil 0,51 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 2,19 persen dengan andil 0,29 persen.
Sementara dari sisi komoditas, beras menjadi penyumbang inflasi tahun kalender terbesar dengan andil 0,87 persen, disusul emas perhiasan 0,42 persen, ikan nila 0,35 persen, bensin 0,33 persen, dan cabai rawit sebesar 0,20 persen.
BPS juga mencatat sejumlah peristiwa selama September yang turut menjadi bagian dari dinamika perekonomian di Kalteng.
Kemarau panjang menyebabkan penurunan produktivitas sejumlah tanaman hortikultura seperti cabai rawit, ketimun, kacang panjang dan tomat.
Selain itu, karhutla dan kabut asap mengganggu jarak pandang pada jalur transportasi darat, udara dan sungai sehingga berpotensi memperlambat distribusi bahan pangan dari daerah pemasok.
Kabut asap juga menyebabkan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sempat ditutup sementara karena terbatasnya jarak pandang landasan pacu.
Pada September 2026, Pertamina juga melakukan penyesuaian tarif BBM nonsubsidi yang berlaku mulai 1 September, di antaranya pada produk Dexlite dan Pertamina Dex.
Dengan perkembangan tersebut, inflasi Kalteng pada September 2026 tercatat 5,02 persen secara tahunan, 3,21 persen secara tahun kalender, dan 0,40 persen secara bulanan.
Desi. A. PT Palangka News Jaya Mandiri.

Leave a Reply