PALANGKA-NEWS.CO.ID, MURUNG RAYA, — Harga BBM sejenis Pertamax yang beredar di tingkat pengecer di Kabupaten Murung Raya, 25/11/2025. mengalami lonjakan signifikan dalam tiga hari terakhir. Kenaikan ini terjadi meskipun harga resmi di SPBU tetap stabil, sehingga memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai penyebab perubahan harga yang cepat di lapangan.
Berdasarkan keterangan para pengecer, kenaikan harga mulai terasa sejak 23 November 2025. Pada hari itu, harga BBM sejenis Pertamax masih berada di kisaran Rp16.000 per liter dan dinilai masih normal. Namun memasuki 24 November 2025, harga naik menjadi Rp20.000 per liter, membuat sebagian masyarakat mulai terbebani.
Lonjakan terbesar terjadi pada 25 November 2025, ketika harga kembali naik mencapai Rp25.000 per liter di sejumlah titik penjualan eceran. Kenaikan sebesar Rp5.000 hanya dalam satu hari ini membuat warga terkejut, terlebih karena kenaikan berlangsung tanpa informasi resmi dari pihak terkait.
Seorang pengecer BBM di Puruk Cahu mengungkapkan bahwa kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya harga dari pelansir atau pemasok BBM nonresmi. Ia mengaku terpaksa menyesuaikan harga jual karena harga kulakan yang diterima terus melonjak dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, masyarakat mempertanyakan perbedaan mencolok antara harga di pengecer dan harga di SPBU yang masih tercatat normal. Banyak warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk menelusuri penyebab kenaikan harga di jalur distribusi luar SPBU tersebut.
Para pengendara, terutama ojek pangkalan, ojek online, serta pelaku usaha kecil yang bergantung pada kendaraan bermotor, merasakan dampak langsung dari kenaikan harga tersebut. Mereka mengeluhkan meningkatnya biaya operasional yang berpotensi mengganggu pendapatan harian.
Pemerintah daerah melalui instansi terkait diharapkan melakukan pengawasan dan mengeluarkan penjelasan resmi agar tidak terjadi keresahan di tengah masyarakat. Transparansi mengenai distribusi BBM di luar SPBU menjadi penting untuk mencegah spekulasi yang merugikan konsumen.
Selain itu, masyarakat meminta agar jalur distribusi BBM nonresmi mendapat perhatian khusus, mengingat kenaikan harga di tingkat pengecer kerap terjadi tanpa kontrol yang jelas. Langkah pengawasan yang lebih ketat dinilai penting untuk menstabilkan harga di pasaran.
Kenaikan harga BBM sejenis Pertamax yang berlangsung dalam waktu singkat ini diharapkan tidak berlarut-larut, mengingat banyak sektor ekonomi lokal yang masih bergantung pada stabilitas harga bahan bakar. Warga kini menunggu tindak lanjut pihak berwenang untuk memastikan kondisi dapat kembali normal.
Rrporter : Pendi
Editor : Redaksi Palangka-news

Leave a Reply