Palangka Raya — Pemerintah Kota Palangka Raya menegaskan komitmennya memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak berbasis masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor dan peran aktif lingkungan sosial.
Komitmen tersebut disampaikan Penjabat Sekretaris Daerah Kota Palangka Raya, Arbert Tombak, saat membuka pertemuan koordinasi dan kerja sama lintas sektor pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), serta penanganan anak yang berhadapan dengan hukum di Aula Peteng Karuhei II Kantor Wali Kota Palangka Raya, Jumat, 14 November 2025.
Menurut Arbert, upaya perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan pada satu instansi semata. Diperlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga layanan, dunia pendidikan, hingga masyarakat.
“Perlindungan perempuan dan anak membutuhkan kerja bersama. Sensitivitas lingkungan sosial menjadi kunci agar setiap indikasi kekerasan dapat terdeteksi dan ditangani lebih cepat,” kata Arbert.
Ia menekankan peran strategis tokoh agama, tokoh masyarakat, serta lingkungan sekitar dalam membangun sistem perlindungan yang responsif dan berkelanjutan. Menurutnya, kepekaan sosial menjadi faktor penting dalam mencegah kekerasan sejak dini.
Berdasarkan data Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Palangka Raya, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan dinamika dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 41 kasus, meningkat menjadi 78 kasus pada 2024, sementara hingga Oktober 2025 tercatat 33 kasus.
“Data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat strategi pencegahan dan penanganan secara lebih terarah,” ujarnya.
Arbert menegaskan bahwa keberhasilan mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan indikator penting kemajuan daerah. Ia mengajak seluruh pihak untuk menghadirkan langkah konkret, inovasi program, serta pemantauan berkelanjutan.
“Kita perlu membangun sistem perlindungan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif, edukatif, dan memberdayakan. Dengan komitmen bersama, Palangka Raya dapat menjadi kota yang aman bagi anak, berkeadilan gender, dan inklusif,” tutupnya.

Leave a Reply Cancel reply