PALANGKA-NEWS.CO.ID, PALANGKA RAYA – Penggunaan istilah “miskin” dalam konteks pendidikan dinilai sudah tidak pantas dan tidak mendidik. Banyak pihak menilai, kata tersebut memberi label negatif yang bisa berdampak buruk pada psikologis anak didik dan keluarganya.
Pengamat pendidikan di Kalimantan Tengah, Hadriansyah, menegaskan bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk citra diri anak. “Menyebut anak dari keluarga tidak mampu dengan kata ‘miskin’ sangat tidak elok. Itu seperti menstigma dan bisa menurunkan rasa percaya diri mereka,” tegas Pak Hadriansyah 25 juli 2025
Menurut beliau, istilah yang lebih tepat dan manusiawi adalah “kurang mampu” atau “berpenghasilan rendah”. Penggunaan bahasa yang lebih empatik sangat penting untuk menciptakan suasana pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan.
“Bayangkan seorang siswa dipanggil atau dicatat sebagai ‘siswa miskin’ dalam daftar bantuan. Itu menyakitkan secara psikologis. Bisa saja anak jadi malu, minder, bahkan merasa tidak layak bersekolah,” ujar Hadriansyah yang sering dipanggil manghadiboy.
Ia mendorong pemerintah, sekolah, dan lembaga pendidikan lainnya untuk melakukan revisi bahasa dalam setiap kebijakan dan dokumen resmi. “Bahasa mencerminkan sikap dan nilai. Mari kita ajarkan empati sejak dini, dimulai dari pemilihan kata,” tambahnya.
Gerakan mengganti istilah “miskin” dalam dunia pendidikan kini juga ramai disuarakan di media sosial. Banyak netizen, termasuk para guru muda dan aktivis pendidikan, menyerukan agar narasi-narasi yang membuat anak merasa rendah diri dihapus dan diganti dengan pendekatan yang lebih membangun.
Sudah saatnya dunia pendidikan berhenti membedakan anak-anak dari latar belakang ekonomi mereka. Semua anak punya hak untuk dihargai dan dihormati—dimulai dari cara kita menyebut mereka.
Hadriansyah meminta kepada kepala Dinas Pendidikan Provinsi,Kota dan Kabupaten mau pejabat tinggi bisa merobah kata bahasa ” Miskin menjadi Kata Kurang mampu atau berpenghasilan rendah kita menghargai manusia yang berbeda derajat sosial dan kasta,karena kita Dimata Tuhan sama.
” Alangkah eloknya bila para pendidik baik kadis, guru, para pejabat tinggi saat memberikan amanat atau surat kepada masyarakat hindari kata “miskin” dalam dunia pendidikan agar anak didik kita tidak minder dan malu pada lingkungannya,” ungkap Hadriansyah /Manghadiboy seorang pensiunan guru SMP yang selalu getol mengkritik membangun untuk kebaikan harkat martabat manusia dalam dunia pendidikan.
Pewarta. : erwansyah/ ustad Mahrudin
Sumber. : pengamat Pendidikan Hadriansyah
PT Palangka news jaya mandiri

Leave a Reply Cancel reply